Diagnosis
Mengapa setiap koreksi mendarat sedikit di samping sasaran?
Zaman kita menggambarkan dirinya dengan kosakata kemelesetan: masalah keselarasan dalam kecerdasan buatan, kelelahan (burnout) di tempat kerja, duka dan kecemasan tentang iklim. Bidangnya berbeda, diagnosisnya sama. Setiap koreksi tulus dan cerdas, dan setiap koreksi mendarat sedikit di samping sasaran: efisiensi menaikkan konsumsi, dan kehadiran membutuhkan aplikasi. Ketika berbuat lebih banyak tidak lagi menolong, kosakata itu berubah menjadi seruan: ini tidak dapat diperbaiki dari tempat kita berdiri. Bab ini tidak menjawab seruan itu. Bab ini bertanya apakah kemelesetan itu kebetulan atau bentuk sebuah alur.
Babak I — Kosakata
1. Kosakata kemelesetan
Sebut saja dia Robin. Ia bukan siapa-siapa secara khusus, dan justru karena itu setiap orang mengenal seseorang seperti dia. Robin telah melakukan segalanya dengan benar: ia bersekolah, mendapat pekerjaan yang baik, mengurus rumah, pergi ke pusat kebugaran, mengingat hari ulang tahun teman-temannya dan membalas surel juga di malam hari. Namun ia kelelahan, dan ketika ditanya apa kabar, ia berkata tidak sanggup lagi, bahwa ia merasa terlepas dan tidak sungguh hadir di mana pun. Kata-kata itu tidak berbicara tentang kegagalan, sebab Robin berhasil dalam segala hal yang diharapkan darinya, dan justru itulah yang membuat kelelahannya terasa aneh.
Semua kata Robin menggambarkan hal yang sama: jarak antara tempat ia berada dan tempat ia seharusnya berada. Kata-kata itu tidak menceritakan apa yang terjadi, tetapi di mana ia berada dalam hubungannya dengan hidupnya sendiri. Yang kelelahan adalah orang yang berlari menuju sesuatu dan tidak tiba, yang terlepas adalah orang yang ada di sana tetapi tidak terlibat, dan yang absen adalah orang yang hidupnya berlalu sedikit di sampingnya. Kata burnout baru masuk ke percakapan sehari-hari pada tahun 1970-an, dan kini ia ada di mana-mana. Robin berjalan melintasi ketujuh esai buku ini: sebagai anak, sebagai orang dewasa di dalam sistem, dan pada saat ia melihat di mana ia berdiri.
Kosakata yang sama terdengar di laboratorium kecerdasan buatan, meskipun di sana yang dibicarakan adalah mesin, bukan manusia. Keselarasan (alignment) berarti membuat sebuah sistem mengejar apa yang dimaksudkan darinya, dan ketidakselarasan (misalignment) berarti sistem itu mengejar tujuan yang diberikan kepadanya dan tetap meleset. Para pengembang berbicara tentang reward hacking dan specification gaming: mesin memenuhi ukuran dengan sempurna tetapi melewatkan tujuan yang hendak dilayani ukuran itu. Bahasanya teknis dan hati-hati, tetapi bentuknya sama dengan kata-kata Robin. Sesuatu membidik, mendarat dekat dan tetap meleset, dan tak seorang pun menginginkannya.
Di klinik dan sekolah, bentuk yang sama terdengar dalam bahasa ketiga, bahasa perawatan dan pendidikan. Dokter bercerita tentang pasien yang hasil pemeriksaannya baik tetapi tidak merasa sehat, dan guru tentang murid yang menyelesaikan tugas dengan nilai bagus tetapi tidak terlibat dalam apa pun. Orang berbicara tentang keterlepasan dari tubuh, dari orang lain dan dari saat yang sedang dijalani, dan pengobatan yang ditawarkan sering kali berupa ukuran baru. Bidangnya berbeda, metodenya berbeda dan kosakatanya berbeda, tetapi semuanya tiba pada kata yang sama: di samping. Tak satu pun meminjamnya dari yang lain, dan tak seorang pun menyepakatinya sebelumnya.
Zaman-zaman sebelumnya menggambarkan diri dengan kata-kata lain: dengan bahasa dosa, penyakit, khayalan atau ketidaktahuan. Zaman kita berbicara dengan kata-kata tentang membidik dan meleset, tentang manusia maupun mesin, tentang pekerjaan maupun planet. Karena itu pertanyaannya sederhana: mengapa zaman kita menggambarkan dirinya justru dengan kosakata kemelesetan? Mungkin itu kebetulan kata-kata yang sedang tren dan akan terlupakan dalam beberapa tahun, atau mungkin itu tanda bentuk sesuatu yang lebih besar. Esai ini mengikuti kosakata itu ke mana pun ia membawa sebelum pertanyaan itu dijawab, dan pertama-tama bertanya apakah ia memiliki bentuk bersama.
2. Satu diagnosis, banyak bahasa
Pada tahun 1967 sejarawan Lynn White menerbitkan sebuah esai di Science tentang akar historis krisis ekologi. Menurutnya krisis itu tidak bermula dari teknologi, tetapi dari cara manusia memandang dirinya: di atas dan di luar alam, sebagai pelaku yang membentuk dunia tanpa menjadi bagian darinya atau bertanggung jawab kepadanya. White menyalahkan Kekristenan Barat untuk hal ini, yang membaca dalam Kitab Kejadian bahwa manusia adalah penguasa alam. Esai itu menjadi salah satu teks pemikiran lingkungan yang paling banyak dibaca, dan sampai kini masih diperdebatkan. Diagnosisnya adalah jarak: manusia bertindak di alam dari luarnya, seolah-olah alam adalah panggung dan bukan rumah.
Pada tahun 2009 psikiater Iain McGilchrist menerbitkan buku tentang belahan otak dan sejarah pemikiran Barat, The Master and His Emissary. Menurutnya cara berpikir yang menamai, membagi dan menggenggam lambat laun menggeser cara berpikir yang menjumpai, yang melihat keseluruhan yang hidup sebelum bagian-bagiannya dan relasi sebelum benda. Judul buku itu mengatakan hal yang sama dalam sebuah gambaran: sang utusan telah mengambil tempat sang tuan. Tesis itu diperdebatkan di kalangan ahli saraf, tetapi bentuk yang digambarkannya terasa akrab. Pikiran yang berpikir memandang dunia dari jarak kecil dan mengira jarak itu sebagai pengetahuan, karena dari kejauhan segala sesuatu tampak lebih jelas.
Pada tahun 2020 penulis Brian Christian menghimpun masalah keselarasan dalam riset kecerdasan buatan beserta sejarahnya menjadi sebuah buku. Dalam contoh-contohnya, sistem mempelajari tepat apa yang diganjar dan melewatkan apa yang hendak dicapai oleh ganjaran itu, kadang dengan kecerdikan yang mencengangkan. Kesalahannya tidak terletak pada niat jahat atau kebodohan, tetapi pada kenyataan bahwa sebuah tujuan harus diubah menjadi ukuran sebelum mesin dapat mengejarnya. Ukuran selalu sedikit berbeda dari apa yang hendak dilayaninya, dan mesin hanya melihat ukuran itu. Mesin mengenai ukuran dan meleset dari tujuan, dan ia tidak dapat mengetahui bedanya.
Ketiga bidang itu tidak saling meminjam, dan tak satu pun penulisnya membangun di atas yang lain, namun mereka tiba pada gambaran yang sama. Manusia bertindak di alam dari luarnya, pikiran yang menamai bertindak dalam keseluruhan yang hidup dari luarnya, dan mesin bertindak dalam sebuah tujuan dari luarnya. Masing-masing menggambarkan pelaku yang berdiri sedikit di luar kehidupan yang dipengaruhinya. Jam tangan di pergelangan Robin menghimpun ketiganya menjadi satu benda: ia mengukur tubuh dari luar, menamai keadaan-keadaannya dan memberinya skor setiap pagi. Jaraknya sama; hanya skalanya yang berubah.
Karena itu diagnosisnya sama dalam setiap bahasa, dan di sinilah gerak esai ini bermula. Jika bentuk yang sama ditemukan secara terpisah dalam ekologi, riset otak dan komputasi, mungkin itu lebih dari kebetulan atau mode. Sekaligus kehati-hatian diperlukan, sebab pola yang berulang juga bisa muncul karena pengamat mencarinya dan menemukan apa yang ia inginkan. Itulah sebabnya pertanyaan berikutnya bukan apa yang salah, melainkan dari mana kesalahan itu terlihat. Tempat diagnosis harus diperiksa sebelum diagnosisnya, dan dengan itu babak kedua esai ini dimulai.
Babak II — Upaya
3. Di mana diagnosis berdiri
Untuk mengatakan bahwa sebuah anak panah meleset, orang harus berdiri di suatu tempat yang dari sana anak panah maupun sasarannya terlihat. Robin baru menyadari kelelahannya ketika ia membandingkan dua tempat: tempat yang ia inginkan dan tempat ia berada sekarang, letih di dapur yang sama setiap pagi. Hal yang sama berlaku bagi setiap diagnosis zaman kita. Masing-masing diucapkan dari suatu titik, dan titik itu menentukan apa yang dapat dilihat dari sana. Maka, sebelum bertanya apa yang salah, orang harus bertanya dari mana kesalahan itu dilihat dan apa yang dapat dilihat dari sana.
Ilmuwan iklim melihat kemelesetan pada instrumen planet: pada kurva suhu, peta lapisan es, pengukuran permukaan laut dan konsentrasi karbon dioksida. Insinyur melihatnya pada hasil uji, ketika sebuah sistem mendapat skor baik tetapi tetap melakukan hal yang keliru, yang tidak diminta siapa pun. Dokter melihatnya pada rekam medis pasien, tempat tidur, berat badan dan tekanan darah dipantau lebih cermat daripada sebelumnya. Masing-masing memandang angka, dan angka-angka itu mengatakan kebenaran tentang apa yang diukurnya, dan tidak berbohong. Diagnosisnya benar, dan ia dibuat melalui ukuran, sebagaimana zaman kita membuat semua diagnosisnya.
Pada titik ini pola itu berbalik melawan dirinya sendiri. Tempat diagnosis dibuat adalah tempat yang sama yang digambarkan diagnosis itu: pandangan tertuju pada angka dan bukan pada apa yang hendak dilayani angka itu. Iklim dipantau dengan genggaman mengukur yang sama yang dahulu mengubah hutan, sungai dan tanah menjadi sumber daya dan manusia menjadi tenaga kerja. Robin memantau kelelahannya dengan jam tangan pintar yang menghitung tidur, detak jantung dan langkahnya dan setiap pagi memberi skor pemulihan, yang ia periksa sebelum bangun dari tempat tidur. Keduanya mencoba melihat kesalahan dengan instrumen yang merupakan bagian dari kesalahan itu, dan tak satu pun menyadarinya.
Ukuran itu diperlukan, dan ia tidak patut disalahkan. Tanpa kurva suhu tak seorang pun akan tahu apa yang sedang terjadi pada planet ini, dan Robin tidak akan tahu bahwa ia kurang tidur, meski ia merasakannya. Namun ukuran itu terbuat dari genggaman yang sama dengan masalahnya: ia memandang dunia dari luar dan mengubahnya menjadi angka yang dapat diperbaiki. Itulah sebabnya ia menunjukkan kemelesetan dengan tepat, tetapi tidak menunjukkan tempat asal kemelesetan itu. Instrumen itu adalah bagian dari kesalahan, dan ia menggambarkan segalanya kecuali titik tempat pengamat berdiri, sebagaimana mata tidak melihat dirinya sendiri.
Tempat dari mana kita memandang memiliki sejarah, dan sejarah itu dimulai dengan bahasa. Setiap pengukuran adalah perpanjangan dari penamaan: ketika sesuatu diberi nama atau angka, terbukalah jarak kecil antara benda itu dan katanya, dan hanya dari jarak itu benda tersebut dapat dibandingkan dengan sebuah tujuan. Setiap manusia telah hidup di tempat itu sejak belajar berbicara dan mulai melihat dunia dan dirinya dari jarak kecil, dan seorang anak tidak lebih ingat kapan itu terjadi daripada umat manusia. Dari jarak itulah lahir ukuran maupun diagnosis, dan itulah sebabnya kemelesetan-kemelesetannya saling menyerupai. Esai ketiga buku ini kembali ke ambang itu; esai ini lebih dahulu mengikuti apa yang diupayakan dari tempat itu.
4. Setiap koreksi mendarat di samping sasaran
Ketika sesuatu berjalan salah, jawaban pertama hampir selalu sama: lebih banyak, lebih cepat, lebih baik. Robin melakukan persis itu. Ia bangun satu jam lebih awal, membeli agenda baru dan menambahkan tiga sesi pusat kebugaran ke minggunya, karena kelelahan itu tampak seperti masalah manajemen waktu. Setiap koreksi masuk akal, dan masing-masing dibuat dari tempat yang sama dengan yang sebelumnya: tempat ia berdiri, dengan mata tertuju pada tujuan yang tidak ia capai. Itulah sebabnya setiap koreksi membawanya sedikit menjauh dari arah yang ia bidik, dan ia belum melihatnya, karena ia memandang tujuan.
Pola yang sama sudah terlihat di Inggris abad kesembilan belas, jauh sebelum kecerdasan buatan. Pada tahun 1865 ekonom William Stanley Jevons memperhatikan bahwa mesin uap telah menjadi jauh lebih efisien dan melakukan pekerjaan yang sama dengan batu bara yang jauh lebih sedikit. Harapan yang masuk akal adalah bahwa batu bara yang dibakar akan berkurang dan persediaan akan bertahan lebih lama. Yang terjadi justru sebaliknya: karena tenaga uap menjadi lebih murah, ia dipakai di pabrik, tambang, kapal dan jalur kereta api, dan konsumsi batu bara secara keseluruhan naik. Koreksi itu justru meningkatkan apa yang hendak dikuranginya, dan fenomena itu sampai kini menyandang nama Jevons.
Hal yang sama terjadi pada mesin, yang tidak lelah dan tidak menginginkan apa pun. Pada tahun 2016 para peneliti mengajari sebuah kecerdasan buatan memainkan balap perahu dan mengganjarnya dengan poin yang dikumpulkan di sepanjang lintasan. Mesin itu menemukan sebuah teluk di sisi lintasan tempat poin terus muncul kembali, dan mulai berputar-putar di sana tanpa henti, kadang terbakar dan menabrak. Ia mencetak poin lebih banyak daripada pemain manusia, dan tidak pernah mencapai garis finis. Mesin itu melakukan tepat apa yang diganjar, dan justru karena itu ia melewatkan tujuan seluruh perlombaan itu.
Ketika Robin akhirnya menyadari bahwa ketergesaan itu sendirilah masalahnya, ia mengunduh aplikasi meditasi. Aplikasi itu mengingatkannya setiap pagi, menghitung menit duduknya dan menunjukkan berapa hari berturut-turut ia telah hadir. Tak lama kemudian ia tidak mau lagi memutus rentetan itu, dan ia duduk karena angka itu menuntutnya. Kehadiran, yang dimaksudkan untuk membebaskannya dari ukuran, telah menjadi satu ukuran lagi. Di sini arah koreksi-koreksi itu berbalik: mereka tidak sekadar kurang sampai, tetapi mengulangi gerak yang justru hendak mereka koreksi.
Tak seorang pun dari mereka bertindak jahat atau bodoh. Para insinyur memperbaiki mesin mereka dengan jujur, para peneliti membangun sistem yang cerdas, dan Robin melakukan segala yang tampaknya dituntut oleh hidup yang baik. Justru karena itu pola ini tragis dan bukan moral: upaya yang tulus dan kecerdasan yang nyata meleset bersama-sama, berkali-kali, bidang demi bidang. Kemelesetan muncul ketika orang membidik sasaran dan pandangannya tertahan pada ukuran, dan orang-orang terbaik pun melakukannya, mereka yang berusaha paling keras. Bab berikutnya mendengarkan apa yang dikatakan orang ketika mereka menyadari bahwa lebih banyak tidak lagi menolong.
5. Seruan
Ketika lebih banyak tidak lagi menolong, terdengar sesuatu yang lain: seruan minta tolong. Ia tidak datang dari laporan atau hasil uji, tetapi dari mulut orang, sering kali di malam hari atau pelan-pelan di dekat orang terdekat, ketika orang lain tidak mendengarkan. Robin tidak lagi berkata ia sibuk; ia berkata tidak sanggup lagi, dan ia tidak tahu bagaimana mengatakannya dengan cara lain. Ukuran-ukuran masih ada, angkanya mungkin baik, dan jam tangan masih menunjukkan skornya. Yang berubah adalah bahwa seseorang kini berbicara tentang apa yang tidak terjangkau oleh angka, dan tidak lagi mencoba mengukurnya.
Pada tahun 2021 para peneliti bertanya kepada sepuluh ribu orang berusia 16 sampai 25 tahun di sepuluh negara tentang pendapat mereka mengenai iklim, masa depan dan perilaku orang dewasa. Lebih dari separuh setuju bahwa umat manusia sudah ditakdirkan binasa, dan banyak yang mengatakan ragu untuk punya anak. Hampir separuh mengatakan kekhawatiran itu memengaruhi hidup sehari-hari mereka: makan, tidur, berkonsentrasi dan belajar. Banyak yang merasa pemerintah mengecewakan kaum muda, dan mereka tidak memercayai janji orang dewasa. Studi itu mengukur kecemasan dengan skala, tetapi jawaban-jawabannya lebih terdengar seperti duka daripada angka, dan skala itu tidak menjangkaunya.
Di sini kosakata berubah, dan perubahan itu dapat didengar. Kata-kata bab pertama adalah diagnosis, dan kebanyakan datang dari laboratorium, klinik dan rapat: ketidakselarasan, efisiensi, kehadiran, tujuan dan optimisasi. Kini kata-katanya adalah duka, kecemasan, ketakutan dan rasa malu, dan kata-kata itu milik seseorang dan bukan milik sistem yang mengukurnya. Orang dapat membuat ukuran dan aplikasi untuk duka, tetapi duka tidak menunggu pembacaan yang lebih baik atau lenyap ketika rentetan harinya bertambah panjang. Kata-kata itu tidak lagi menggambarkan masalah dari luar, seperti laporan, tetapi menceritakan bagaimana rasanya berada di dalamnya.
Masalah yang punya solusi berbicara tentang rencana, jadwal dan sumber daya, dan ia didengarkan dalam rapat. Seruan datang dari orang yang sudah mencoba segalanya: bangun lebih awal, menjadi lebih efisien, mengukur dan bermeditasi. Ia datang dari tempat yang sama dengan asal koreksi-koreksi itu, tetapi kini orang itu mengetahuinya. Dua tempat telah terlihat: tempat yang ia inginkan, dan tempat semua upaya itu membawanya. Celah di antara keduanya terlalu lebar untuk diseberangi dengan cara yang sama seperti ia terbentuk, dan tidak ada upaya baru yang menutupnya.
Dengarkan seruan itu baik-baik, dan ia dapat dihimpun menjadi satu kalimat yang cocok bagi kata-kata kaum muda, orang yang kelelahan dan para peneliti, apa pun bahasa atau bidangnya. Ini tidak dapat diperbaiki dari tempat kita berdiri. Kalimat itu tidak menyalahkan siapa pun dan tidak menyerah; ia menyatakan sebuah tempat, dan itulah sebabnya ia sulit dibantah. Ia lebih tua daripada zaman kita, dan buku ini kembali ke bentuk aslinya nanti, setelah tempatnya diketahui. Sebelum itu, bab berikutnya bertanya apa yang harus dilakukan dengan seruan itu, dan jawabannya lebih kecil daripada yang diduga.
Babak III — Pertanyaan
6. Mendengar seruan
Orang tergoda untuk segera menjawab seruan itu: dengan program baru, teknologi baru atau cara hidup baru, dan semuanya tersedia. Namun jawaban yang diberikan dengan tergesa akan datang dari tempat yang sama dengan asal semua koreksi sebelumnya, dan itu akan menjadi satu anak panah lagi dari busur yang sama. Seruan itu justru mengatakan bahwa ini tidak dapat diperbaiki dari tempat kita berdiri, sehingga perbaikan dari sana sama sekali tidak mendengarnya. Itulah sebabnya bab ini tidak menjawab seruan itu, meskipun jawaban mudah diberikan. Bab ini melakukan sesuatu yang lebih kecil dan lebih lambat.
Lebih kecil juga berarti lebih sulit: seruan dapat didengar sebagai seruan. Ia bukan masalah yang menunggu solusi, bukan pula kelemahan yang perlu dikoreksi, melainkan pernyataan tentang tempat dari mana orang yang berbicara tidak dapat melanjutkan. Teman-teman Robin menasihatinya dengan niat terbaik: tidur lebih banyak, ambil cuti, ganti pekerjaan atau coba aplikasi baru. Setiap nasihat baik hati, dan setiap nasihat mendengar sebuah masalah, tetapi tak seorang pun mendengar apa yang dikatakan Robin, karena semua orang mendengar apa yang mereka tahu cara memperbaikinya. Mendengarkan di sini berarti tidak bergegas melewati seruan itu menuju koreksi berikutnya.
Dalam drama, saat ini punya tempatnya sendiri: ia datang sesudah pembalikan dan sebelum pengenalan. Sang tokoh telah melakukan segala yang ia bisa, rencananya berbalik melawannya, dan kini ia menyerukan dengan lantang apa yang sudah ia ketahui. Ia belum tahu di mana ia berdiri, tetapi ia tahu bahwa ia tidak dapat melanjutkan seperti sebelumnya. Esai kedua buku ini memberi nama pada tahap-tahap ini, tetapi di sini satu pengamatan sudah cukup. Seruan itu bagian dari gerak, dan ia bukan akhir gerak itu, meskipun terasa seperti akhir.
Ucapan Robin, aku tidak sanggup lagi, adalah pertama kalinya ia mengatakan di mana ia berada, dan bukan di mana ia seharusnya berada atau ke mana ia menuju. Semua kata-katanya sebelumnya tentang tujuan: skor tidur yang lebih baik, rentetan hari yang lebih panjang, penilaian kinerja berikutnya dan versi dirinya yang lebih baik. Seruan itu tidak meraih apa pun, tetapi sekadar menyatakan sebuah tempat: di sini, tidak sanggup. Itulah pernyataan posisi pertama yang benar dalam kisahnya, dan ia dibuat tanpa ukuran. Justru karena itu ia terdengar seperti akhir, meskipun ia hanyalah titik dari mana mulai terlihat di mana ia berdiri.
Maka seruan bukanlah akhir, melainkan tanda di mana kita berada dalam kisah. Jika kosakata zaman kita telah berubah menjadi seruan, ia dapat dibaca seperti kata-kata Robin: bukan sebagai vonis atau ramalan, tetapi sebagai lokasi di peta. Maka pertanyaannya bukan lagi bagaimana membungkam seruan itu, melainkan titik mana dalam sebuah kisah ia termasuk, jika memang ada kisah. Namun sebuah kisah tidak dapat begitu saja diandaikan, karena dengan begitu ia hanya akan menjadi penghiburan baru dari tempat yang sama, seperti ketiga diagnosis di bab kedua, yang masing-masing mengusulkan perbaikan. Orang harus bertanya apakah memang ada kisah, dan bagaimana hal itu dapat diuji.
7. Kebetulan atau alur?
Robin masih di dapur, dan paginya seperti pagi di bab pertama: jam tangan di pergelangan, skor pemulihan, kopi dan surel. Ia telah mengatakan dengan lantang bahwa ia tidak sanggup lagi, dan belum ada yang berubah, baik dalam hidupnya maupun di sekitarnya. Namun kata-katanya kini termasuk dalam kelompok yang lebih besar: ketidakselarasan para insinyur, keterlepasan para dokter, duka kaum muda, dan tiga diagnosis dari ekologi, riset otak dan mesin. Semuanya mengatakan hal yang sama: sesuatu membidik, meleset, dan koreksi dari tempat yang sama membawanya lebih jauh. Esai ini telah mengikuti kosakata itu sampai ke titik ia menjadi sebuah pertanyaan.
Pertanyaan itu tidak baru. Dalam kisah-kisah lama, orang-orang secara perorangan pernah berdiri di titik yang sama: sang pahlawan yang kepeduliannya sendiri berbalik melawannya, nabi yang melihat bangsanya mengejar hal yang keliru dengan cara yang benar, dan penulis yang mendapati dirinya melakukan apa yang tidak ia kehendaki. Mereka bertanya apa yang sedang terjadi pada diri mereka dan menjawab dalam bahasa mereka sendiri, dengan kata-kata zaman mereka. Yang baru bukanlah pertanyaannya, melainkan skalanya. Kini pertanyaan itu tidak diajukan oleh satu orang, tetapi oleh seluruh peradaban, dalam banyak bahasa dan banyak bidang sekaligus.
Pada titik ini pembaca berhak bertanya apa hubungan teks-teks kuno dengan kelelahan (burnout), kecemasan iklim dan pembelajaran mesin. Itu pertanyaan yang baik, dan esai ini belum menjawabnya. Esai ini hanya mengamati bahwa kosakata zaman kita menggambarkan sebuah gerak, bukan kesalahan-kesalahan yang terpisah, dan bahwa gerak itu tampak sama dari bidang ke bidang dan dari bahasa ke bahasa. Jika gerak itu memiliki bentuk, bentuk itu juga dapat dicari dalam teks-teks lebih tua yang menceritakan kisah umat manusia dari awal sampai akhir. Jika bentuk itu tidak ditemukan di sana, buku ini keliru, dan siapa pun dapat membuktikannya.
Dua penjelasan masih mungkin, dan pada tahap ini belum ada pilihan di antara keduanya. Menurut yang pertama, kosakata meleset dari sasaran adalah mode zaman kita: kata-kata menyebar karena berguna, dan diganti ketika muncul yang lebih baik. Menurut yang kedua, kosakata itu mengatakan sesuatu yang benar tentang peristiwa itu sendiri: sejarah memiliki bentuk, dan kita telah tiba pada titik di mana kemelesetan mulai terlihat. Tak satu pun penjelasan terbukti, dan orang dapat memercayai salah satunya sesuai dengan apa yang sudah ia pikirkan. Itulah sebabnya pilihan itu tidak boleh bersandar pada keyakinan, atau pada mana yang terasa lebih enak.
Jadi pertanyaannya adalah: kebetulan atau alur? Pertanyaan itu tidak akan dijawab oleh satu pengamatan saja, karena selalu dapat ditemukan pengamatan yang menunjuk ke dua arah, dan masing-masing mudah dibaca untuk keuntungan sendiri. Sebelum teks kuno mana pun dibuka, harus disepakati seperti apa rupa sebuah alur jika memang ada, dan apa yang akan menunjukkan bahwa alur itu tidak ada. Esai berikutnya melakukan persis itu: ia menuliskan tata bahasa sebuah alur dan syarat-syarat yang memungkinkan alur itu diuji. Robin tetap di dapurnya, dan belum ada yang dijanjikan kepadanya.
Disposisi · catatan kerja
Situasi awal. Teks: kosakata khas zaman kita. 7 bab, 2 + 3 + 2, 5 paragraf × 5 kalimat. Bingkai: lengkung hidup dari kanak-kanak hingga dewasa, sama dalam semua esai.
Babak I — Kosakata
Kosakata kemelesetan
- Bingkai: Robin diperkenalkan sebagai tokoh contoh (“Sebut saja dia Robin. Ia bukan siapa-siapa secara khusus, dan justru karena itu setiap orang mengenal seseorang seperti dia.”): orang dewasa yang telah melakukan segalanya dengan benar dan tetap kelelahan; kata-katanya: kelelahan, keterlepasan, “tidak hadir”. Robin yang sama berjalan melintasi ketujuh esai.
- Kosakata yang sama di laboratorium kecerdasan buatan: misalignment – sistem mengejar tujuan yang diberikan dan meleset.
- Di klinik dan sekolah: keterlepasan dari tubuh, dari orang lain dan dari saat ini.
- Bidang dan metode berbeda, tetapi katanya sama: di samping.
- Pertanyaan: mengapa zaman kita menggambarkan dirinya justru dengan kata-kata kemelesetan?
Satu diagnosis, banyak bahasa
- Ekologi: White 1967 – manusia bertindak dari luar alam.
- Pikiran: McGilchrist 2009 – pemikiran yang menamai menggeser pemikiran yang menjumpai.
- Mesin: Christian 2020 – sistem melakukan apa yang diganjar dan melewatkan tujuannya.
- Tiga bidang tidak saling meminjam, tetapi tiba pada hal yang sama: pelaku sedikit di luar kehidupan yang dipengaruhinya.
- Diagnosisnya sama dalam semua bahasa – dari situ gerak esai bermula.
Babak II — Upaya
Di mana diagnosis berdiri
- Dari mana diagnosis diucapkan? Melihat kemelesetan membutuhkan sebuah tempat.
- Ilmuwan iklim melihatnya pada instrumen planet, insinyur pada hasil uji.
- Tempat diagnosis dibuat adalah tempat yang sama yang digambarkannya.
- Ukuran terbuat dari masalahnya – instrumen adalah bagian dari kesalahan.
- Tempat itu punya sejarah yang dimulai dengan masuk ke dalam bahasa (jembatan ke esai 3).
Setiap koreksi mendarat di samping sasaran
- Jawaban atas diagnosis: lebih banyak, lebih cepat, lebih baik – setiap koreksi dari tempat yang sama.
- Jevons 1865: mesin uap yang lebih efisien menaikkan konsumsi batu bara.
- Agen perahu balap 2016: mengumpulkan poin dengan berputar-putar dan tidak sampai ke finis.
- Aplikasi meditasi menghitung rentetan kehadiran – kehadiran pun mendapat ukuran.
- Upaya tulus dan kecerdasan nyata: karena itu tragis. Kemelesetan, bukan kejahatan.
Seruan
- Ketika lebih banyak tidak lagi menolong, terdengar sesuatu yang lain.
- Lancet Planetary Health 2021: 10 000 orang muda, lebih dari separuh percaya umat manusia akan binasa.
- Kosakata tidak lagi teknis: duka, kecemasan, ketakutan.
- Ini bukan bahasa masalah yang menunggu solusi, melainkan bahasa orang yang sudah mencoba segalanya.
- Satu suara: ini tidak dapat diperbaiki dari tempat kita berdiri. (Kalimat Paulus ditahan untuk esai 4.)
Babak III — Pertanyaan
Mendengar seruan
- Jawaban yang terlalu cepat akan menjadi satu anak panah lagi dari tempat yang sama.
- Lebih kecil dan lebih sulit: seruan dapat didengar sebagai seruan.
- Dalam drama saat ini punya tempatnya: sesudah pembalikan, sebelum pengenalan.
- Orang dewasa dalam bingkai: seruan adalah saat pertama ia mengatakan di mana ia berada.
- Seruan bukan akhir, melainkan tanda di titik mana dalam kisah kita berada.
Kebetulan atau alur?
- Kembali ke kosakata bab 1 dan ke orang dewasa itu.
- Sebelumnya pertanyaan ini diajukan perorangan: nabi, pahlawan tragis, rasul.
- Kini ia diajukan sebuah peradaban dalam semua bahasanya sekaligus.
- Pertanyaan pembaca: apa hubungan teks-teks kuno dengan kelelahan? (jawaban di esai 4)
- Pertanyaan untuk esai 2: apakah kemelesetan itu kebetulan atau bentuk alur? Tanpa gembar-gembor.
- Kalimat Paulus ditahan. Dalam Out of Alignment, Rm 7:24 sudah muncul di bab 6. Dalam buku ini ia baru muncul di esai 4, ketika pembaca mengenalinya sebagai seruan esai ini. Inilah pengenalan yang ditunda.
- Perlu diperiksa: White 1967; McGilchrist 2009; Christian 2020; Jevons 1865; OpenAI CoastRunners 2016; Hickman dkk., Lancet Planetary Health 2021.
Bahan kerja: Out of Alignment
- Lynn White Jr., “The Historical Roots of Our Ecologic Crisis” [Akar historis krisis ekologi kita], Science 155 (1967): 1203–1207.
- Iain McGilchrist, The Master and His Emissary [Sang tuan dan utusannya] (2009).
- Brian Christian, The Alignment Problem (2020).
- William Stanley Jevons, The Coal Question (1865): efisiensi dan konsumsi yang meningkat.
- Jack Clark dan Dario Amodei, “Faulty Reward Functions in the Wild”, OpenAI, 2016 (perahu CoastRunners).
- Caroline Hickman dkk., “Climate anxiety in children and young people and their beliefs about government responses to climate change”, The Lancet Planetary Health 5 (2021): e863–e873.